Literasi digital sering dipahami sebagai kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi. Padahal, tantangan yang lebih besar justru muncul ketika pengguna harus memutuskan informasi mana yang layak dipercaya, dibagikan, atau ditanggapi.
Dalam perspektif etika, kecepatan tidak seharusnya mengalahkan ketelitian. Kebiasaan tabayun relevan diterapkan di ruang digital: melihat sumber, membaca isi secara utuh, mencari konteks, dan menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas.
Etika bermedia juga mencakup penghormatan terhadap privasi, penggunaan bahasa yang pantas, serta kesediaan mengoreksi informasi jika terbukti keliru. Kecakapan teknis menjadi lebih bermakna ketika disertai tanggung jawab sosial.
Artikel opini ini merupakan konten demonstrasi bawaan theme Taleema News dan tidak mewakili sikap redaksi.
